Postingan

Menampilkan postingan dengan label Melatih kemandirian

Aliran rasa melatih kemandirian

Tantangan pada bulan ini adalah melatih kemandirian pada anak dan diri saya sendiri. Saya membagi tantangan ini menjadi 4 pekan. Pekan pertama melatih kemandirian ketrampilan hidup, pekan kedua melatih kemandirian belajar, pekan ketiga melatih kemandirian emosional, dan pekan keempat melatih kemandirian psikososial. Sebenarnya raisa sudah cukup mandiri bab ketrampilan hidup, seperti makan sendiri, pakai baju sendiri dan lepas baju sendiri, karena sejak satu tahun perlahan-lahan sudah saya latih. Namun semenjak adiknya lahir, raisa minta diperlakukan seperti adiknya, makan minta disuapin, baju minta dilepaskan dan dipakaikan, apa2 minta diambilkan. Nah, ini yang menjadi tantangan saya, terus memberinya semangat melatih kemandiriannya. Meskipun saya masih belum bisa konsisten, masih tarik ulur untuk meminimalisir sibling rivalvy antara raisa dan adiknya. Alhamdulillah, dengan progam melatih kemandirian ini, raisa semakin berani bermain bersama teman2nya, meskipun masih harus dimotivasi...

Melatih kemandirian prososial 2

Kemarin sore kami bermain sepeda2an di sekitar komplek. Raisa melihat teman2nya sedang bermain. Raisa meminta mama membawanya menemui teman2nya. Setelah dekat , raisa menyapa temannya, "hasna aku minta maaf ya" katanya. Beberapa hari sebelumnya memang sempat ada masalah dengan teman2nya. Raisa menangis saat digoda zaidan untuk tidak bermain bersama mereka. Kebetulan disana ada hasna. Sejak itu hasna tidak main kerumah kami lagi. Entah untuk alasan itu atau alasan lain kami tidak tahu. Raisa selalu bilang minta maaf saat bertemu zaidan atau saat melihat hasna dari kejauhan. Padahal bukan raisa yang bersalah, setiap saya tanya kenapa minta maaf, raisa bilang "ya gak papa ma". Tapi saya biarkan saja dia minta maaf pada hasna dan zaidan. Mungkin itu caranya untuk bisa diterima kembali bermain bersama mereka. Raisa sedang berlatih kemandirian prososial. Dan benar saja, raisa kembali akrab dengan hasna, sore itu hasna kembali bermain kerumah kami. Dan pagi ini hasna suda...

Melatih kemandirian emosional

Saat terdengar adzan dzuhur, Raisa(3y5m)bergegas ke masjid depan rumah. Seperti biasa, Raisa menaiki sepedanya meskipun jarak ke masjid sangat dekat. Tak lama kemudian saya dengar Raisa menangis dan berteriak-teriak memanggil saya. Setelah saya lihat keluar rumah, ternyata Raisa menangis karena tidak bisa menaikkan sepedanya ke garasi. Alih-alih membantunya, saya ingin melatih kemandirian emosional padanya. Yaitu, kemandirian untuk melakukan hal yang dia merasa tidak mampu. Saya beri motivasi Raisa, "ayo ca, kamu bisa, turun dulu dari sepeda dan sepedanya dituntun ke atas". Dan diapun menuruti kata2 saya. Raisa turun dari sepeda dan menuntun sepedanya ke atas. Dan Alhamdulillah, ternyata Raisa mampu melakukannya. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk melatih kemandirian emosional padanya. Membuatnya merasa mampu melakukan hal yang menurutnya sulit dan tidak mampu dia lakukan. Melalui hal2 sederhana dalam kegiatan sehari2. Kudus, 09 Maret 2017 #level2 #melatihkemandi...

Melatih kemandirian prososial

Salah satu keunikan raisa adalah dia suka mengatur orang lain. Mengatur bagaimana orang lain harus bermain seperti apa dan berperan apa. Baik saat bermain bersama ayah, mama, kakung, titi, maupun dengan adiknya. Saat bermain bersama adik sore ini, raisa mengatur adiknya agar mau main suap2an, sementara itu adiknya sudah punya kemauan sendiri, sehingga terjadilah sedikit keributan. Adik menangis karena raisa terus memaksanya. Sejenak saya biarkan raisa menyelesaikan masalah yang dibuat. Saya hanya ingin dia belajar kemandirian prososial, kemandirian untuk menyelesaikan sendiri masalah dengan adiknya. Meskipun pada akhirnya saya harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah raisa dan adiknya, namun hari ini saya sudah memberikan kesempatan raisa untuk melatih kemandirian prososial. Kudus, 08 Maret 2017 #level2 #melatihkemandirian #kuliahbunsayiiip

Mama belajar mandiri

Semenjak menikah dan dikaruniai anak, saya berasa selalu "dimanja" suami, terutama yang berkaitan dengan pergi2. Kemanapun suami siap mengantar. Konsekuensinya ya saya harus bersabar menunggu suami memiliki waktu luang. Dulu, saat masih singgle, saya menjadi rider, kemana2 naik motor sendiri. Namun, entah kenapa setelah dikaruniai dua putri saya agak takut naik motor sendiri, apalagi kalau harus bawa 2 balita. Jadi, mau gak mau saya harus nunggu suami kemanapun saya mau pergi. Qodarullah, 2 hari ayah harus pergi keluar kota. Anak2 mulai terlihat bosan dirumah, apalagi Raisa, apalagi ibunya (he..he..). Jadilah sabtu sore saya memberanikan diri mengajak anak2 jalan2. Belum nyaman pakai motor apalagi kalau harus bawa 2  balita, saya naik sepeda listrik. Biasanya saya naik sepeda dengan jarak dekat. Kali ini, kami bersepeda agak jauh, kurang lebih 5-6 km. Saya set pikiran saya dengan pikiran yang positif, bahwa perjalanan akan berjalan dengan lancar, dan kami akan baik2 saja....

Aku bisa mengambil mainan sendiri

Hari ini Raisa bangun lebih pagi dari biasanya. Jadi saat dia sudah segar dan cantik, mama belum selesai dengan pekerjaan rumah tangga. Raisa memilih bersama Ayah diruang bermain. Setelah selesai dengan pekerjaan domestik, saya masuk ke ruang bermain. Saya lihat Raisa sudah asyik bermain puzzle. Saya kaget karena biasanya dia akan ngegeri minta main sama2  atau minta diambilkan mainan bahkan saat saya sibuk sekalipun. "Siapa tadi yang ambilkan mainannya ca?"."ambil sendiri" jawabnya sambil terus memasang puzzle. Kudus, 03 Maret 2017 #level2 #melatihkemandirian #kuliahbunsayiip

Melatih kemandirian belajar (memilih dan menyiapkan mainan sendiri)

Pada pekan ke dua ini, tantangan saya adalah melatih kemandirian belajar Raisa, diantaranya adalah melatihnya menentukan mau main apa hari ini dan sekaligus menyiapkan alat dan bahannya semampunya. Setiap pagi, saya tanyakan mau main apa hari ini? "Aku mau main cat mama". Setelah dia menentukan mau main apa, Raisa membantu menyiapkan alat dan bahannya, yaitu cat, kuas, wadah cat dan buku gambar.  "Aku mau cat warna pink sama ungu mama". "Oke...sekarang Raisa ambil sendiri catnya dan taruh diwadah cat ya". "Ya mama". Raisa mulai mengambil cat dan meletakkannya di wadah cat, saya melihatnya dari kejauhan. Ini adalah proses saya memberi kepercayaan untuknya, bagi saya tidak mudah, karena cat belepotan dimana2, berceceran di wastafel. "It's oke...its oke..dia sedang belajar", batin saya. Setelah selesai dengan cat, raisa mulai menggambar di buku gambar. Puas menggambar dengan cat, Raisa ingin bermain yang lain. "Oke..kita bereska...

Masih berlatih memakai baju sendiri

Masih berkutat melatih kemandirian Raisa memakai baju sendiri. Dalam sehari Raisa bisa berganti baju 3- 5 kali. Setelah mandi pagi, setelah makan, setelah bermain, setelah mandi sore dan sebelum tidur. Ada banyak moment untuknya berlatih melepas dan memakai baju sendiri. Dari sekian banyak moment melatih kemandiriannya memakai baju sendiri, dari 5 moment itu tidak semua Raisa melakaknnya sendiri. Biasanya hanya 3 moment saja yang dia dengan suka hati melakukannya. Sisanya biasanya tetap minta tolong, terutama setelah selesai mandi, bebarengan dengan adiknya. Sekarang Raisa lebih terampil melepas baju dan memakai baju sendiri, bahkan jika bajunya terbalik pun Raisa bisa membaliknya sendiri. Tetap berlatih ya sayang... Kudus, 27 Februari 2017 #level2 #melatihkemandirian #kuliahbunsayiip

Melatih kemandirian ketrampilan hidup (merapikan mainan)

Salah satu tantangan melatih kemandirian Raisa adalah melatihnya merapikan mainan sendiri selepas bermain. Seringkali Raisa lupa untuk merapikan mainannya setelah bermain. Ambil satu mainan, belum dirapikan dan langsung mengambil mainan yang lain. Namun saya sering mengatakan padanya "ayo ca, rapikan dulu mainannya, baru ambil mainan yang lain ya". Awalnya dia enggan, namun saya sampaikan bahwa belum boleh ambil mainan yang lain, kalau mainannya belum dirapikan. Dan mau tidak mau dia akan mulai merapikan mainannya. Seperti hari ini, Raisa minta bermain peran jual beli es krim. Dia penjualnya, saya dan adiknya sebagai pembelinya. Tak lama berselang, dia mulai bosan dan meminta menggambar  dibuku. Oke kita rapikan dulu ya. Dan Raisa mulai bernyanyi "rapi...rapi...rapikan mainan bersama2, rapikan mainanmu...rapikan mainanmu". "Ayo ma, bantuin ma". Raisa akan dengan senang hati merapikan mainannya, jika saya turut serta membantunya Diusianya saat ini, Rai...

Melatih kemandirian ketrampilan hidup (memakai baju sendiri)

Diusianya saat ini, Raisa (3y4m) sebenarnya sudah mampu memakai baju sendiri. Namun semenjak adiknya lahir, seringkali Raisa bertingkah seperti adik bayi lagi. Misalnya ya dalam memakai baju. Sebelumnya dia akan senang hati memakai baju sendiri, sekarang seringkali ia minta dipakaikan baju seperti adik yaitu memakai baju sambil tiduran. Hal ini menjadi dilematis untuk saya, disatu sisi, Raisa ingin dimanja dan diperhatikan, disisi lain, ini seperti mengulang pembelajaran yang sebenarnya dia sudah lulus. Seperti sore ini, selepas mandi dan setelah saya selesai memakaikan baju untuk adiknya, Raisa juga minta tolong dipakaikan baju oleh mama. "Mama tolong ma, ca mau dipakaikan celananya"  dan saya mulai bernyanyi "kakak Raisa sudah besar, bisa pakai celana sendiri, bisa pakai baju sendiri" . Raisa tersenyum-senyum mendengar nyanyian saya dan dia mulai memakai celananya sendiri. Setelah selesai memakai celana, saya berikan apresiasi untuknya "masyaAllah, kakak bi...

Melatih kemandirian ketrampilan hidup (makan sendiri)

Bagi saya, melatih kemandirian ketrampilam hidup untuk Raisa (3y4m) sama artinya dengan melatih rasa percaya saya pada Raisa, percaya bahwa dia mau, mampu dan bisa melakukannya. Selain itu, juga melatih saya untuk memandang Raisa sebagai anak usia 3 tahun yang sedang belajar, bahwa saya tidak boleh menargetkan kesempurnaan tanpa cela padanya, bahwa membuat kesalahan pada proses belajar itu sangat amat wajar. Jadi, saya harus berdamai dengan diri saya sendiri dan menaruh kepercayaan penuh pada Raisa bahwa ini adalah proses belajarnya. Setiap kali akan melatihkan kemandirian ketrampilan hidup pada Raisa, seperti makan sendiri, itu artinya saya harus siap dengan makanan yang berceceran, tangan dan mulut yang belepotan, baju yang kotor dengan kuah, dan lantai yang kotor. Saya selalu berusaha meyakinkan diri saya, bahwa ini adalah proses belajar Raisa, ini penting untuknya, keriwehan ini bisa saya atasi dengan mudah. Seperti malam ini, setelah bepergian kami mampir membeli mie ayam untu...