Postingan

Menampilkan postingan dengan label komunikasi produktif

Aliran rasa komunikasi produktif

Komunikasi produktif atau saya lebih mengenalnya sebagai komunikasi efektif sesungguhnya bukan hal baru buat saya. Dulu...saat masih bekerja menjadi guru PAUD, materi ini sering saya terima dan praktekkan bersama dengan teman2.  Namun, bukan berarti setelah menikah dan dikaruniai anak komunikasi produktif lantas menjadi mudah saya praktekkan. Kenyataannya, berbicara dengan nada suara tinggi, berbicara dengan kata2 negatif masih sering saya lakukan. Menerima kembali materi komunikasi produktif di kelas bunda sayang, seolah menjadi angin segar untuk saya berubah menjadi lebih baik sebagai individu, istri dan ibu. Kalau hanya membaca materi, meskipun sudah saya baca berulang2, saya yakin akan menguap begitu saja. Yang paling menyenangkan dan mencerahkan adalah membuat narasi dari praktek komunikasi produktif yang sudah dilakukan. Nah...disinilah tantangannya, setiap hari saya harus memperhatikan dengan jeli komunikasi yang saya lakukan, sudah sesuai atau belum dengan kaidah komuni...

Ayo sama-sama belajar...

Setelah 10 hari lebih mendapatkan materi komunikasi produktif dan mencoba mempraktekkannya sehari2 bersama anak dirumah, baru kemarin malam saya share ilmu ini dengan suami. Bukan karena tidak mau berbagi, tapi lebih karena saya ingin mempraktekkannya terlebih dahulu supaya ketika saya share dengan suami beliau bisa melihat apakah ada perubahan pada diri saya atau tidak. Karena menurut saya ini hal yang penting dan tidak bisa disampaikan sembarang waktu, maka saya memilih waktu yang tepat (choose the right time). Dan malam itu waktu yang tepat menurut saya, saat anak2 sudah terlelap tidur, dan kami sedang berdiskusi ringan di ruang tamu. Saya dekati suami yang sedang asyik dengan hpnya, lalu saya sampaikan "yah, aku masih ikut kuliah iip yang dulu aku ceritaiin itu lho, ini ada lanjutannya, materinya tentang komunikasi produktif". "ya" jawab singkat suami. " "ini materinya yah" aku sodorkan hp ku padanya. Suami hanya membaca sekilas. Lalu saya t...

Perintah vs pilihan

Raisa sudah memiliki kemauannya sendiri. Mau mandi, mau pakai baju, mau makan, mau main apa semua dia tentukan sendiri. Mau mandi misalnya, harus ditawarkan lebih dahulu, "mau mandi sekarang atau nanti ca?". Selesai mandi " bajunya mau diambilkan mama atau ambil sendiri" "dibantu mama atau pakai sendiri"'. Saat makan "mau makan sendiri atau disuapin mama". Saat main"mau main apa hari ini?" Memberi pilihan untuk setiap kegiatan yang dilakukannya, pasti juga memberi konsekuensi, baik untuk Raisa maupun untuk saya. Saat dia memilih mandinya nanti saja misalnya (agak siang dikit), mandinya ya pakai air dingin, kalau masih pagi ya dengan air hangat. Dia sudah paham dengan ini, "pakai air dingin ya mama, karena mandinya gak sama2 adik ya ma"' . Saat dia memilih baju sendiri misalnya, konsekuensinya lebih banyak ke saya, karena harus siap2 dengan baju atasan dan bawahan yang tidak matching ( gak apalah sekarang kan tre...

Keep calm

Pertengkaran2 kecil sering terjadi antara suamiku dan aku. Kebanyakan sih karena salahku yang sering terlanjur emosi (marah). Sumbu marahku sangat pendek, mudah sekali tersulut. Allah Maha Baik memberiku suami yang sangat...sangat sabar. Saat aku mulai marah, beliau hanya diam saja, menunggu emosiku mereda. Seperti pagi ini, selepas sholat shubuh adalah waktu "me time" ku, biasa aku gunakan untuk stalking sosmed atau menulis. Saking asyiknya,  aku lupa bahwa sudah saatnya membuat kopi untuk suami. Sampai terdengar suara kompor dinyalakan. Perasaanku campur aduk, antara merasa bersalah dan merasa terganggu karena keasyikanku menulis harus terhenti. "Ayah lagi apa?" "Gak papa" jawab suamiku. Nadanya sih sebenarnya biasa saja, tapi karena pikiranku sudah negatif, aku merasa dia marah. Aku mencoba menenangkan diriku sambil melanjutkan aktivitas pagiku. Suasana masih terasa dingin antara kami, dan itu adalah suasana yang paling aku benci. Akhirnya aku sampa...

Aku bisa...

Ketika main bersama, Raisa minta dibacakan buku cerita. Saya memintanya untuk bergantian bercerita. "Ayo sekarang gantian Raisa yang bacakan buku cerita buat mama". "Gak mau, gak bisa mama"'. "Bisa, Raisa bisa...ayo dicoba dulu!!" Akhirnya Raisa mencoba membaca buku yang dia pegang, judulnya "Harimau" "Harimau suka melihat burung" "Harimau suka melihat tikus" "Harimau suka melihat ikan" "Harimau sayang teman2nya..eh...salah..sayang adiknya" Saya terharu mendengarnya, Raisa bercerita berdasarkan gambar yang ada dalam buku ceritanya, berbeda dengan isi cerita yang biasa saya ceritakan. "MasyaAllah, Raisa ternyata bisa ya membaca buku cerita". Raisa tersipu mendengar pujian saya. Raisa memang sering berkata "tidak bisa, ngak bisa ma, aku ngak bisa". Misalnya saja saat memakai baju, mengambil suatu barang, atau saat bermain. Menggunakan kaidah komunikasi produktif dengan men...

Katakan apa yang kita inginkan...

Diusianya saat ini,  Raisa sangat senang bertanya dan bercerita. Ceriwis sekali, apapun ditanyakan sampai detail, diulang terus menerus. Pun apapun juga diceritakan, saat dimasjid bertemu teman2 dan apa yang disampaikannya pada teman2nya, pengalamannya saat jalan2, ataupun hal2 yang disukai. Saat main, saat mau tidur bahkan saat makan pun dia banyak bercerita. Buat saya sebenarnya tidak masalah, karena itu artinya dia sehat, cerdas, ceria, dan critical thinker. Yang menjadi masalah adalah saat makan. sering saya ingatkan bahwa saat makan harus tenang. Tapi, sering juga dia lupa, dan terus bertanya dan bertanya tentang apapun itu. Seringkali ini menjadi dilema untuk saya, waktu makan adalah waktu untuk fokus menguyah bukan berbicara, tapi disisi lain saya juga tidak ingin memupus antusiasmenya bercerita dan bertanya. Akhirnya, saat makan dan dia mulai berbicara. Saya berusaha fokus berbicara pada diri saya sendiri untuk fokus mengatakan apa yang saya inginkan dan bukan yang t...

Terimakasih karena...

Raisa senang membantu mama. Dia senang saat dimintai tolong, misal mengambilkan popok adik, minyak telon adik, baju adik ataupun membuang sampah. Namun, adakalanya dia juga enggan untuk dimintai tolong dengan berbagai alasan, seperti "aku lagi ini lho mama, bentar ya". Adakalanya juga, dia tidak mau dimintai tolong meskipun sudah dibujuk sedemikian rupa. Adakalanya dia membantu untuk hal2 yang menurut saya agak mengkhawatirkan, seperti menggendong adik. Dia baru berusia 3 tahun dengan berat badan 12 kg, sedang adiknya berusia 10 bulan dengan berat badan 7 kg, jadi dia kelihatan kepayahan menggendong adiknya. Agar tidak membuatnya berkecil hati saya sampaikan, "maaf ya kakak gendong adiknya saat ada mama aja ya!". Atau saat membantu mama membawa piring ke tempat cucian, agar tak membuat saya khawatir karena takut pecah, saya mengganti semua perlengkapan makan dan minum yang anti pecah belah. Saat dia dengan suka cita membantu mama, atau saat enggan membantu mama ...

Komunikasi ala kami

Karena dirumah ada dua balita, Raisa (3y) dan Rafifa (10m), jadi memang agak menantang memcari waktu khusus ngobrol berdua dengan suami. Ngobrol yang saya maksudkan disini adalah ngobrol dengan duduk cantik dan saling bercengkrama. Tapi tentu saja, kami gak kehilangan akal, biasanya diskusi dan ngobrol ini kami lakukan sambil masak bersama atau ketika membersamai anak2 bermain. Ngobrolnya juga ringan2 saja, seputar kegiatan anak2 dirumah biasanya saya ceritakan selepas suami kerja. Kalau ngobrol yang agak berat biasa kami lakukan malam hari setelah anak2 tertidur. Saat ini, kami memang belum pernah melakukan family forum yang terjadwal. Semua kami lakukan mengalir saja, kapan ada waktu ngobrol ya kita ngobrol, bahkan saat dimobil dalam perjalanan pun justru menjadi saat yang paling menyenangkan untuk ngobrol tentang anak2. Kedepan, seiring berjalannya waktu dan perkembangan serta pertumbuhan anak2, tentu saya juga ingin memiliki family forum yang terjadwal yang juga melibatkan an...

Kembali ke titik 0

Hari ini saya harus mengulang kembali ketitik nol. Setelah 2 hari berhasil mempraktekkan ilmu komunikasi produktif bersama anakku Raisa, hari ini aku tumbang. Acara bersih2 ruang bermain Raisa yang harusnya menyenangkan menjadi kelabu. Karena diburu target yang harus cepat selesai, sebelum Rafifa bangun, saya jadi tidak menikmatinya. Raisa yang merasa senang karena bisa bereksplorasi dengan barang2 yang berantakan berbanding terbalik dengan saya yang "kemrungsung" karena harus segera selesai. Walhasil, keluarlah kata2 dengan intonasi tinggi, kata2 negatif, kata2 yang menghakimi, juga kata2 yang panjang dan lebar yang sama sekali gak produktif dan efektif. "Raisa, jangan diberantakin lagi dong, gak selesai2 nanti beres2nya". "Raisa, udah dibilangin ya, gak dengerin mama ini". Itu beberapa kata yang saya ingat, yang jelas saya jadi tambah capek. Akhirnya saya sudahi kegiatan beberes meskipun belum selesai. Sebelum saya menjadi tambah kehilangan kontrol d...

Eye contact dan KISS

Adzan magrib mulai terdengar. Raisa (3y3m) antusias mempersiapkan dirinya. Mengambil mukena dan minta dipakaikan. Karena hari ini mama berhalangan, jadi Raisa ke masjid bersama ayah. Raisa senang ke masjid, karena disanalah dia bertemu teman2nya, bermain, berlari2an. Ini yang menjadi dilema buat kami orangtuanya. Disatu sisi senang karena dia bisa bertemu teman2nya, di sisi lain merasa gak enak hati dengan jamaah lain karena pastinya tingkah polah raisa dan teman2nya mengganggu kekhusukan sholat. Oleh karena itu, setiap kali sebelum ke masjid saya selalu berpesan, "sholat ya nak, gak boleh lari2, boleh mainan sama teman setelah sholat, oke". "Oke" jawabnya Hari ini, saya juga melakukan hal yang sama, tapi dengan cara yang berbeda. Mencoba mempraktekkan komunikasi produktif pada Raisa. Saya memintanya melakukan eye contact dengan saya, lalu saya mengatakan :"di masjid sholat ya nak". "Iya mama", jawabnya. Karena rumah kami tepat depan masji...

Tenang...ternyata itu kuncinya

Makan malam ini Raisa(3y3m) memilih untuk makan diatas kursi. Biasanya kami makan bersama dibawah (lesehan). Karena makanan untuk seluruh keluarga belum siap, baru untuk Raisa yang sudah ada, dia makan duluan diatas kursi tanpa ditemani siapapun. Menit2 pertama berjalan dengan cukup lancar, raisa makan sendiri tanpa kesulitan. Tiba2 terdengar suara "krompyang" dari ruang makan. Saya yang sudah siap makan, spontanitas teriak "lha tenan tho (lha benar khan). Ayah pun juga mulai ikut2an bicara "udah dibilang, makannya dibawah aza ca". Namun sesaat itu juga saya berusaha tenang dan diam sekaligus mencegah ayahnya bicara lebih panjang. "Sudah yah, tenang dulu, diam, aku mau menenangkan diri dulu" kata saya. Saya pun meminta Raisa tetap duduk dikursi, saya juga duduk untuk menenangkan diri. Setelah beberapa saat, ayah mulai membereskan mangkok dan makanan yang tumpah, saya meminta Raisa untuk membantu ayah memunguti nasi yang berceceran. Lalu saya sampai...